Daisypath Anniversary tickers

Sahabat Sejati

Bagian V

” Bi.. tolong cepat tutup pintu pagar.. ” teriak Lisa sampainya di rumah Sisil.

Bibi setengah berlari menuju pagar, menutupnya dengan cekatan. Bibi melihat wajah Sisil yang pucat.

” Ada apa dengan non Sisil ya? kenapa dia sering pulang dengan wajah pucat seperti itu?” gumam bibi dalam hati.

” Mari masuk non, bibi buatkan teh hangat ” ajak bibi, berharap anak majikannya itu bisa sedikit tenang.

Sisil masuk ke dalam rumah di papah bibi dan Lisa. Seluruh badannya lemas, Sisil hampir menangis.

” Tenang Sil, sekarang kamu aman, kamu sudah ada di rumah ” kata Lisa berusaha menenangkan sahabatnya itu.

Sisil hanya mengangguk mendengar ucapan Lisa.

” Apa yang sebenarnya terjadi Sil?” tanya Lisa ingin tahu.

Sisil minum teh hangatnya, menghirup nafas dalam-dalam.

” Aku akan mulai cerita Lis ” jawab Sisil.

” Baik, aku dengarkan.. ” ujar Lisa.

” Kau ingat, kenapa papa ku meninggal LIs?” tanya Sisil.

” Akui ngat Sil, 2 tahun yang lalu papa mu meninggal karena kecelakaan mobil setelah pulang dari rapat kan?” jawab Lisa, berusaha mengingat kejadian itu.

” Iya, dan aku tahu itu bukan kecelakaan Lis, tapi disengaja.. ” Sisil menatap kosong tehnya.

” Maksudmu apa Sil?” Lisa ragu dengan apa yang baru saja di ucapkan sahabatnya itu.

” Iya.. itu sengaja Lis, rem mobil papa blong ” jawab Sisil mulai menangis.

Lisa mengambil rokoknya, dia sudah tidak peduli lagi kalau Sisil tidak suka dia merokok.

” Ceritakan semuanya Sil, menangislah kalau itu perlu ” kata Lisa.

” Hari itu papa berusaha meyakinkan perusahaan untuk tidak memecat sebagian karyawan Lis, saat itu perusahaan papa merugi akibat adanya produk lain yang lebih murah dengan kualitas lebih bagus ” cerita Sisil.

” Terus apa hubungannya dengan sengajanya papa mu meninggal Sil?” tanya Lisa masih belum paham.

” Salah satu karyawan papa tidak setuju dengan pemikiran papa Lis, dia juga yang usul untuk memecat sebagian karyawan, karena perusahaan hampir bangkrut ” jelas Sisil.

” Karyawan itu, orang yang tadi memperhatikan kita di warung Sil?” Lisa berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

” Bukan, dia bawahannya ” kata Sisil.

” Terus mama mu tahu semua ini Sil?” tanya Lisa heran, kenapa saat itu mama Sisil sangat tenang.

” Tahu Lis kata mama itu sudah takdir.. mama sangat sabar menghadapi masalah ini, tapi aku tidak Lis ” Sisil menghirup nafas dalam-dalam, berusaha mengingat semua.

” Dan sikapku pada bibi berubah, karena bibi tahu masalah ini saat pemakaman papa ” ujar Sisil seraya memandang bibi yang terdiam.

” Apa yang bibi tau dari masalah ini?” tanya Lisa pada bibi.

” Bibi hanya tau mereka bilang, akhirnya bapak meninggal juga non ” jawab bibi takut.

” Bibi tidak salah Sil, yang salah itu mereka.. bibi juga sudah pasti tidak bisa membantu ” jelas Lisa berharap Sisil mengerti.

” Sudah Lis, aku tidak mau membahas masalah ini ” ujar Sisil, beranjak menuju kamarnya,

” Tapi Sil.. ” kata Lisa, berusaha menahan Sisil.

” Aku capek Lis, aku mau istirahat ” jawab Sisil, mengunci pintu kamar.

” Baik, sekarang Sisil sedang emosi ” gumam Lisa dalam hati.

” Bi.. aku mau bantu Sisil, bibi bisa kan bantu Sisil juga?” tanya Lisa.

” Bisa non, bisa.. ” jawab bibi, mengangguk tanda setuju.

Lisa bingung, apa yang bisa dilakukannya untuk Sisil. Masalah Sisil terlallu rumit untuk orang seperti Lisa yang selalu berpikir sederhana.

” Apa aku minta bantuan polisi ya? tapi apa tidak berlebihan? itu sudah 2 tahun yang lalu ” gumam Lisa dalam hati.

Lisa menghisap rokoknya dalam-dalam, terus berpikir apa yang bisa dia perbuat untuk sahabatnya itu.

” Sebaiknya aku minta bantuan kak Ricky, siapa tahu dia bisa membantu ” pikir Lisa.

Lisa mengambil ponselnya, berusaha menghubungi kakaknya itu.

” Hallo kak.. aku boleh minta tolong?” sapa Lisa saat Ricky mengangkat telfonnya.

” Ada apa Lis? kau bertengkar lagi dengan papa?” tanya Ricky penuh selidik, sudah 2 minggu terakhir Lisa menginap dirumah papa.

” Bukan kak, ini masalah Sisil, sekarang kakak dimana? aku ingin ketemu ” tanya Lisa.

” Aku masih di temapt kerja Lis, kau bisa kesini ” jawab Ricky.

” Ok kak.. tunggu aku ya, ” Lisa segera mematikan telfonnya, menuju ke kamar Sisil.

” Sil, aku pinjam mobilmu, tadi kak Ricky minta ketemu.. nanti sore aku pulang ” pamit Lisa.

” Iya Lis ” jawab Sisil lirih.

Lisa segera pergi menuju cafe tempat Ricky bekerja, dia ingin segera membagi masalah Sisil dengan kakaknya itu. Lisa sadar, selain Sisil masih ada Ricky untuk tempat berbagi.

Sahabat Sejati

Bagian IV

Di kamar, Lisa masih berfikir, kenapa sikap Sisil tiba-tiba berubah? dan apa maksud percakapannya dengan bibi di dapur tadi? Lisa bergegas mandi, berharap Sisil tidak menunggunya terlalu lama.

” Sil.. ayo berangkat” ajak Lisa. Pagi ini Lisa lebih rapi dari biasanya, dia memakai baju muslim warna pink dan celana jeans. setidaknya lebih rapi dari pakaian Lisa yang sehari-hari hanya memakai kaos dan jeans belelnya.

” Wah.. Lis hari ini kau cantik sekali,” goda Sisil.

” Kau itu.. pintar sekali menertawakanku, tinggal baju ini yang ada di lemari mu Sil ” jawab Lisa, sedikit tidak nyaman dengan baju tertutup seperti itu.

” Hmm.. kau terlihat selalu cantik saat memakai baju seperti itu Lis, ” Sisil tersenyum, menginggat Lisa hanya sekali memaki baju itu, saat lebaran tahun kemarin. Baju itu pun yang memilih Sisil, dia ingin melihat Lisa terlihat berbeda saat lebaran.

” Iya Sil, aku tahu.. aku memang sangat cantik, kapan kita berangkat? ” jawab Lisa menggoda sahabatnya itu.

” Ayo berangkat.. ” Sisil beranjak menuju garasi, di ikuti Lisa.

” Bi.. aku berangkat dulu ya!! ” teriak Lisa, tertawa melihat bibi yang berlari menuju garasi, menjawab dengan senyuman.

Di dalam mobil, Lisa hanya bisa mendengarkan radio. Sisil fokus menyetir, padahal Lisa ingin sekali tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lisa tahu, Sisil sangat tidak suka ada yang tahu masalahnya, tapi Lisa kan sahabatnya? tidak ada salahnya Sisil bicara.

” Kenapa Sisil tidak bicara? apa lebih baik aku yang bertanya?” gumam Lisa dalam hati, masih ragu, haruskah dia mencari tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan Sisil.

” Sil.. ” Lisa memulai pembicaraan, dengan suara lirih yang hampir tidak terdengar.

” Iya Lis, kenapa?” jawab Sisil tanpa melihat Lisa.

” Aku.. ” belum selesai Lisa biara Sisil sudah menyahut.

” Aku tahu apa yang kamu pikirkan Lis, bisakah kita membicarakannya dirumah? hari ini aku ingin bersenang-senang denganmu Lis, aku mohon ” kata Sisil, tersenyum melihat Lisa yang terdiam.

” Oke.. ” Lisa sedikit lega, ternyata Sisil tidak menyembunyikan apapun darinya.

Sampainya di supermarket, Lisa berlari.. tak sabar ingin membeli beberapa bahan masakan yang nantinya akan di masak oleh Sisil. Sisil mengejar sahabatnya itu, berteriak..

” Lis.. tunggu aku, larimu cepat sekali ” ujar Sisil terengah-engah.

” Maaf Sil, aku sudah tidak sabar ” Lisa mengenggam tangan sahabatnya itu.

” Iya Lis.. tapi jangan lari seperti itu, lihat.. banyak orang yang melihat kita ” jawab Sisil sedikit malu.

” Iya iya Sisil.. ayo cepat kita masuk ” ajak Lisa seraya mengambil keranjang belanja.

” Oh iya Sil, kita mau belanja apa? ” tanya Lisa sedikit bingung.

” Kau lupa ya Lis? besok kan hari pertama puasa, aku akan masak spesial untuk kita sahur ” jawab Sisil.

Lisa diam mendengar jawaban Sisil. Hampir setahun dia tidak lagi shalat, memang Sisil sering mengajaknya beribadah. Tapi sejak Sisil berubah, tidak ada lagi yang mengingatkannya. Hari ini, Sisil kembali mengingatkannnya, mungkin ini awal yang baru, pikir Lisa.

” Baik Sil.. puasa pertama, aku ingin es buah, emm.. tidak, puding Sil ” jawab Lisa sedikit bingung dengan menu puasa pertamanya.

” Ambillah bahan makanan yang kau suka Lis, aku akan mengajarimu memasak ” kata Sisil menggoda Lisa.

” Apa? aku belajar memasak? hmm.. oke, siapa takut ” tantang Lisa, beranjak menuju tempat buah-buahan.

” Kau tahu Sil? aku akan membuat es buah tersegar yang pernah ada ” kata Lisa mengambil buah melon, menciumnya.. berharap ada aroma manis disana.

” Iya Lis.. dan aku akan membuat balado telur, deal? ” jawab Sisil.

Lisa hanya mengangguk, kembali sibuk dengan buah pilihannya. Setelah selesai memilih buah, Lisa menhampiri Sisil yang sibuk memilih cabai.

” Sil.. ada bedanya ya cabai itu? ” tanya Lisa, pedas melihat Sisil sibuk memilih cabai.

Sisil tersenyum mendengar komentar Lisa.

” Sudah selesai Lis? ayo pulang ” ajak Sisil, melihat keranjang belanja Lisa.

” Sudah.. ayo “

Mereka beranjak meninggalkan supermarket yang mulai ramai pengunjung itu, antri di kasir. Setelah selesai membayar semua barang belanja, Sisil mengajak Lisa untuk mampir ke warung bakso langganan mereka.

” Lis, kamu mau pesan apa? ” tanya Sisil,

” Es jeruk Sil, aku haus ” jawab Lisa sambil memperhatikan suasana warung.

” Pak, bakso komplitnya 1, es jeruknya 2 ya pak, makasih ” pesan Sisil pada penjual bakso.

” Iya mba, tolong di tunggu sebentar ya? ” jawab si penjual, masih serius dengan masakannya.

Sisil menghampiri Lisa yang bermain sedotan.

” Sil.. kapan kau akan cerita?” tanya Lisa tak sabar, berharap Sisil cepat bercerita.

” Nanti di rumah Lis, sabar ya.. ” jawab Sisil.

Di dalam hati, Sisil masih ragu, haruskah dia membagi masalahnya dengan Lisa?

Pesanan Sisil sudah datang, dia cepat-cepat menghabiskan baksonya.

” Lis, ayo cepat pulang.. ” ajak Sisil, merasa risih dengan warung itu.

Lisa melihat perubahan sikap sahabatnya itu, di lihatnya sekeliling warung itu. Tidak ada yang aneh, pikir Lisa. Mungkin Sisil sakit perut.. Lisa mencoba mencari alasan. Tapi di seberang warung itu Lisa melihat sosok laik-laki yang terus memperhatikan Sisil. Lisa setengah berlari mengikuti Sisil ke mobil. Di dalam mobil Sisil terlihat pucat. Lisa memegang tangan Sisil, dingin.

” Sil, kamu baik-baik saja?” tanya Lisa khawatir.

” Tolong kamu yang menyetir Lis,” jawab Sisil gugup.

Lisa hanya mengangguk, mengambil alih kemudi. Lisa menginjak gas kuat-kuat, berharap cepat sampai rumah, dengan berbagai pertanyaan. Siapa laki-laki itu? kenapa memperhatikan Sisil? kenapa Sisil takut? Lisa hanya terdiam.

Sahabat Sejati

Bagian III

Lisa kembali duduk, menatap makanannya.

” Sil, cepat kemari.. ” ajak Lisa, berharap Sisil cepat kembali ke ruang makan dan menemaninya sarapan.

” Iya Lis.. ” teriak Sisil dari dapur, berlari kecil menuju ruang makan, tersenyum.

” Kau itu kenapa? makanlah, sedikit saja.. kau bisa sakit Sil, ” tanya Lisa khawatir.

” Aku tidak nafsu makan Lis, habiskan makananmu, aku ke kamar dulu ” jawab Sisil, beranjak pergi dari ruang makan.

Lisa hanya terdiam, melihat tingkah sahabatnya itu. Baru kali ini Sisil membiarkan Lisa makan sendiri, bahkan meninggalkan Lisa. Lisa tahu ada sesuatu yang di sembunyikan sahabatnya itu, tapi apa? Lisa menghabiskan makanannya sambil berfikir kemungkinan apa yang bisa membuat Sissil sangat berubah hari ini. Di dapur, bibi terisak, dia tahu apa yang membuat Sisil berubah. Lebih dari tahu, bahkan bibi sendiri sangat mengerti, dia menyesal kenapa saat itu tidak menolong Sisil.

” Bi.. aku sudah selesai, tolong piringku di cuci ya bi, makasih ” ujar Lisa mengejutkan bibi.

” Ehh.. iya non, di taruh meja tidak apa-apa, nanti bibi bersihkan ” jawab bibi, berusaha menhapus air matanya.

” Loh.. bibi kenapa? kok nangis? ada masalah sama Sisil ya bi? ” tanya Lisa ingin tahu.

” Tidak non.. bibi baik, ini tadi bibi habis mengupas bawang ” kilah bibi.

Lisa tahu bibi menyembunyikan sesuatu tentang Sisil. Lisa sangat kenal bibi, dia orang yang tidak pandai berbohong.

” Bi.. aku kan sahabat Sisil, kalau Sisil ada apa-apa, aku juga harus tahu, dia sudah cukup tahu aku, tapi kau belum.. ayolah bi, bantu aku, ya? ” rayu Lisa berharap bibi menceritakan apa yang terjadi dengan Sisil.

Bibi bingung, apakah dia harus menceritakan semua pada Lisa, agar Lisa bisa membantu Sisil, atau tidak menceritakannya dan membuat dia diacuhkan Sisil. Bibi ingat saat Sisil masih bayi, bibi yang merawatnya seperti merawat anak sendiri. Bahkan bibi lebih sayang dengan Sisil daripada dengan anaknya sendiri. Tapi sejak kejadian itu, bibi merasa tidak berguna dimata Sisil, tidak bisa menolong Sisil saat itu. Bibi menangis mengingat semua kenangan bersama Sisil.

” Lis.. cepat mandi, setelah itu temani aku belanja makanan ” ujar Sisil mengejutkan.

Bibi langsung menghapus air matanya dan kembali membersihkan piring. Lisa heran, kenapa Sisil bisa tiba-tiba muncul.

” Oke Sil, tunggu sebentar ” jawab Lisa, berlari menuju kamar Sisil.

Sahabat Sejati

Bagian II

Sudah tiga kali bibi mengetuk pintu kamar Sisil, tetap tak ada jawaban.

" Non Sisil, nyonya minta non ikut sarapan di ruang makan " ujar bibi, berusaha membangunkan nonnya itu, tentu saja bibi tidak berani masuk ke kamar Sisil. Dulu Sisil pernah hampir mengusir bibi karna membersihkan kamarnya, hanya Lisa yang bolehmasuk kamar Sisil, entah apa yang disembunyikan Sisil di kamarnya.

" Hoammpt.. " Sisil menguap, sedikit mengeliat. Di lihatnya Lisa masih tidur pulas.

" Iya bi, sebentar lagi aku turun.. " jawab Sisil" Baik non.. " ujar bibi, tersenyum.. Akhirnya dia berhasil membangunkan nonanya itu, tiap kali Lisa datang di rumah itu, Sisil selalu berubah menjadi anak yang manis, hanya di saat itulah bibi bisa sedikit lega, setidaknya Sisil tidak akan terus-terusan berteriak, menangis, dan melempar semua yang ada di dekatnya.

" Lisa.. bangun, mama sudah menunggu kita sarapan " Sisil membangunkan Lisa, mengelus rambut panjang Lisa.

" Hmmm.. kapan mama mu pulang Sil? " tanya Lisa, masih dengan mata terpejam.

" Aku selalu tidak tahu kapan mereka masuk dan keluar dari rumah ini Lisa, " jawab Sisil, sedikit getir.

Lisa tahu, Sisil tidak pernah mau peduli dengan orang lain, meskipun mereka orang tua Sisil sendiri. Lisa beruntung Sisil masih peduli dengannya, hal itu berarti Lisa adalah orang yang penting bagi Sisil.

" Baiklah Sil, aku akan cuci muka dan gosok gigi, setelah itu kita turun untuk makan " sahut Lisa penuh semangat, sambil berlari ke kamar mandi.
Sisil tertawa melihat tingkah Lisa, sahabatnya yang tidak bisa jauh dari kata makan dan makanan. Setiap kali Lisa datang, Sisil akan selalu membuatkannya masakan kesukaan Lisa. Entah sejak kapan Lisa sangat menyukai masakan Sisil, dan Sisil pun tak pernah tahu apa yang membuat Lisa begitu menyukai masakannya.

" Ayo Sil, aku sudah lapar.. " ajak Lisa.
Sisil hanya mengangguk, mengikuti langkah Lisa menuruni anak tangga. Di ruang makan, hanya ada bibi yang sedang membereskan sisa tempat makan. Bibi tidak berani melihat nonanya,

" Non pasti akan marah, kalau tahu nyonya sudah berangkat kerja, tapi kan ada non Lisa, pasti non Sisil tidak marah " gumam bibi dalam hati.

" Bi.. mama dimana? " tanya Sisil.

" Maaf non, tadi nyonya buru-buru berangkat kerja, ada rapat.. " jawab bibi.

Sisil diam, Lisa hanya bisa melihat Sisil, dia tidak tahu apa yang sekarang ada di pikiran sahabatnya itu. Tiba-tiba Sisil tersenyum sinis, mengambil piring, mengisinya dengan nasi dan lauk.

" Lisa, cepat ambil.. tadi kau bilang sudah lapar bukan? " Sisil menyodorkan nasi ke piring Lisa.

" Iya Sil.. " turut Lisa.

Sisil masih terdiam, menunduk melihat makanannya. Di aduknya makanan yang ada di piring hingga berbunyi. Lisa hanya memandang Sisil, tak berani bicara, apa lagi menegur. Sisil selalu merasa bisa menyelesaikan masalahnya, hingga dia tak pernah membagi masalahnya dengan Lisa. Lisa memegang tangan Sisil, tersenyum.

" Sil, kau ada masalah? bisa bicara denganku? aku tahu kau tidak suka masalahmu di ketahui orang lain, tapi aku sahabatmu.. aku ingin membantumu" ujar Lisa sabar, berusaha bersikap seperti Sisil ketika dia ada masalah.

Sisil menatap Lisa, menangis.. Sisil beranjak dari kursi, membawa makanannya ke dapur. Bibi
mengikuti Sisil menuju dapur.

Sisil tersenyum, " Bi, tolong buang makanan ini, hari ini aku tidak makan " .

Bibi hanyak mengangguk dan menerima piring Sisil. Sisil memandang wajah bibinya itu.

" Bi, maaf kalau selama ini Sisil menyusahkan bibi.. " kata Sisil seraya memegagng tangan bibinya.

" Iiya non.. bibi tau, " jawab bibi sambil gemetaran.

" Terima kasih bi, hari ini aku sudah berusaha meringankan pekerjaan bibi untuk membersihkan pecahan piring bukan? aku benar-benar baik " ujar Sisil sinis.

Ada sedikit kebencian di mata Sisil. Tanpa Sisil ketahui, dari tadi Lisa mengikuti Sisil ke dapur, dan mendengar semua perkataan Sisil. Lisa bingung, sebenarnya ada masalah apa Sisil dengan bibi? kenapa sikap Sisil sangat berbeda dengan bibi? Lisa berpikir keras, beranjak menuju meja makan.

Newer Entries » « Older Entries

Pages

Digital Clock

VISITOR'S

map widget

About This Site