Bagian II

Sudah tiga kali bibi mengetuk pintu kamar Sisil, tetap tak ada jawaban.

" Non Sisil, nyonya minta non ikut sarapan di ruang makan " ujar bibi, berusaha membangunkan nonnya itu, tentu saja bibi tidak berani masuk ke kamar Sisil. Dulu Sisil pernah hampir mengusir bibi karna membersihkan kamarnya, hanya Lisa yang bolehmasuk kamar Sisil, entah apa yang disembunyikan Sisil di kamarnya.

" Hoammpt.. " Sisil menguap, sedikit mengeliat. Di lihatnya Lisa masih tidur pulas.

" Iya bi, sebentar lagi aku turun.. " jawab Sisil" Baik non.. " ujar bibi, tersenyum.. Akhirnya dia berhasil membangunkan nonanya itu, tiap kali Lisa datang di rumah itu, Sisil selalu berubah menjadi anak yang manis, hanya di saat itulah bibi bisa sedikit lega, setidaknya Sisil tidak akan terus-terusan berteriak, menangis, dan melempar semua yang ada di dekatnya.

" Lisa.. bangun, mama sudah menunggu kita sarapan " Sisil membangunkan Lisa, mengelus rambut panjang Lisa.

" Hmmm.. kapan mama mu pulang Sil? " tanya Lisa, masih dengan mata terpejam.

" Aku selalu tidak tahu kapan mereka masuk dan keluar dari rumah ini Lisa, " jawab Sisil, sedikit getir.

Lisa tahu, Sisil tidak pernah mau peduli dengan orang lain, meskipun mereka orang tua Sisil sendiri. Lisa beruntung Sisil masih peduli dengannya, hal itu berarti Lisa adalah orang yang penting bagi Sisil.

" Baiklah Sil, aku akan cuci muka dan gosok gigi, setelah itu kita turun untuk makan " sahut Lisa penuh semangat, sambil berlari ke kamar mandi.
Sisil tertawa melihat tingkah Lisa, sahabatnya yang tidak bisa jauh dari kata makan dan makanan. Setiap kali Lisa datang, Sisil akan selalu membuatkannya masakan kesukaan Lisa. Entah sejak kapan Lisa sangat menyukai masakan Sisil, dan Sisil pun tak pernah tahu apa yang membuat Lisa begitu menyukai masakannya.

" Ayo Sil, aku sudah lapar.. " ajak Lisa.
Sisil hanya mengangguk, mengikuti langkah Lisa menuruni anak tangga. Di ruang makan, hanya ada bibi yang sedang membereskan sisa tempat makan. Bibi tidak berani melihat nonanya,

" Non pasti akan marah, kalau tahu nyonya sudah berangkat kerja, tapi kan ada non Lisa, pasti non Sisil tidak marah " gumam bibi dalam hati.

" Bi.. mama dimana? " tanya Sisil.

" Maaf non, tadi nyonya buru-buru berangkat kerja, ada rapat.. " jawab bibi.

Sisil diam, Lisa hanya bisa melihat Sisil, dia tidak tahu apa yang sekarang ada di pikiran sahabatnya itu. Tiba-tiba Sisil tersenyum sinis, mengambil piring, mengisinya dengan nasi dan lauk.

" Lisa, cepat ambil.. tadi kau bilang sudah lapar bukan? " Sisil menyodorkan nasi ke piring Lisa.

" Iya Sil.. " turut Lisa.

Sisil masih terdiam, menunduk melihat makanannya. Di aduknya makanan yang ada di piring hingga berbunyi. Lisa hanya memandang Sisil, tak berani bicara, apa lagi menegur. Sisil selalu merasa bisa menyelesaikan masalahnya, hingga dia tak pernah membagi masalahnya dengan Lisa. Lisa memegang tangan Sisil, tersenyum.

" Sil, kau ada masalah? bisa bicara denganku? aku tahu kau tidak suka masalahmu di ketahui orang lain, tapi aku sahabatmu.. aku ingin membantumu" ujar Lisa sabar, berusaha bersikap seperti Sisil ketika dia ada masalah.

Sisil menatap Lisa, menangis.. Sisil beranjak dari kursi, membawa makanannya ke dapur. Bibi
mengikuti Sisil menuju dapur.

Sisil tersenyum, " Bi, tolong buang makanan ini, hari ini aku tidak makan " .

Bibi hanyak mengangguk dan menerima piring Sisil. Sisil memandang wajah bibinya itu.

" Bi, maaf kalau selama ini Sisil menyusahkan bibi.. " kata Sisil seraya memegagng tangan bibinya.

" Iiya non.. bibi tau, " jawab bibi sambil gemetaran.

" Terima kasih bi, hari ini aku sudah berusaha meringankan pekerjaan bibi untuk membersihkan pecahan piring bukan? aku benar-benar baik " ujar Sisil sinis.

Ada sedikit kebencian di mata Sisil. Tanpa Sisil ketahui, dari tadi Lisa mengikuti Sisil ke dapur, dan mendengar semua perkataan Sisil. Lisa bingung, sebenarnya ada masalah apa Sisil dengan bibi? kenapa sikap Sisil sangat berbeda dengan bibi? Lisa berpikir keras, beranjak menuju meja makan.