Bagian IV

Di kamar, Lisa masih berfikir, kenapa sikap Sisil tiba-tiba berubah? dan apa maksud percakapannya dengan bibi di dapur tadi? Lisa bergegas mandi, berharap Sisil tidak menunggunya terlalu lama.

” Sil.. ayo berangkat” ajak Lisa. Pagi ini Lisa lebih rapi dari biasanya, dia memakai baju muslim warna pink dan celana jeans. setidaknya lebih rapi dari pakaian Lisa yang sehari-hari hanya memakai kaos dan jeans belelnya.

” Wah.. Lis hari ini kau cantik sekali,” goda Sisil.

” Kau itu.. pintar sekali menertawakanku, tinggal baju ini yang ada di lemari mu Sil ” jawab Lisa, sedikit tidak nyaman dengan baju tertutup seperti itu.

” Hmm.. kau terlihat selalu cantik saat memakai baju seperti itu Lis, ” Sisil tersenyum, menginggat Lisa hanya sekali memaki baju itu, saat lebaran tahun kemarin. Baju itu pun yang memilih Sisil, dia ingin melihat Lisa terlihat berbeda saat lebaran.

” Iya Sil, aku tahu.. aku memang sangat cantik, kapan kita berangkat? ” jawab Lisa menggoda sahabatnya itu.

” Ayo berangkat.. ” Sisil beranjak menuju garasi, di ikuti Lisa.

” Bi.. aku berangkat dulu ya!! ” teriak Lisa, tertawa melihat bibi yang berlari menuju garasi, menjawab dengan senyuman.

Di dalam mobil, Lisa hanya bisa mendengarkan radio. Sisil fokus menyetir, padahal Lisa ingin sekali tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lisa tahu, Sisil sangat tidak suka ada yang tahu masalahnya, tapi Lisa kan sahabatnya? tidak ada salahnya Sisil bicara.

” Kenapa Sisil tidak bicara? apa lebih baik aku yang bertanya?” gumam Lisa dalam hati, masih ragu, haruskah dia mencari tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan Sisil.

” Sil.. ” Lisa memulai pembicaraan, dengan suara lirih yang hampir tidak terdengar.

” Iya Lis, kenapa?” jawab Sisil tanpa melihat Lisa.

” Aku.. ” belum selesai Lisa biara Sisil sudah menyahut.

” Aku tahu apa yang kamu pikirkan Lis, bisakah kita membicarakannya dirumah? hari ini aku ingin bersenang-senang denganmu Lis, aku mohon ” kata Sisil, tersenyum melihat Lisa yang terdiam.

” Oke.. ” Lisa sedikit lega, ternyata Sisil tidak menyembunyikan apapun darinya.

Sampainya di supermarket, Lisa berlari.. tak sabar ingin membeli beberapa bahan masakan yang nantinya akan di masak oleh Sisil. Sisil mengejar sahabatnya itu, berteriak..

” Lis.. tunggu aku, larimu cepat sekali ” ujar Sisil terengah-engah.

” Maaf Sil, aku sudah tidak sabar ” Lisa mengenggam tangan sahabatnya itu.

” Iya Lis.. tapi jangan lari seperti itu, lihat.. banyak orang yang melihat kita ” jawab Sisil sedikit malu.

” Iya iya Sisil.. ayo cepat kita masuk ” ajak Lisa seraya mengambil keranjang belanja.

” Oh iya Sil, kita mau belanja apa? ” tanya Lisa sedikit bingung.

” Kau lupa ya Lis? besok kan hari pertama puasa, aku akan masak spesial untuk kita sahur ” jawab Sisil.

Lisa diam mendengar jawaban Sisil. Hampir setahun dia tidak lagi shalat, memang Sisil sering mengajaknya beribadah. Tapi sejak Sisil berubah, tidak ada lagi yang mengingatkannya. Hari ini, Sisil kembali mengingatkannnya, mungkin ini awal yang baru, pikir Lisa.

” Baik Sil.. puasa pertama, aku ingin es buah, emm.. tidak, puding Sil ” jawab Lisa sedikit bingung dengan menu puasa pertamanya.

” Ambillah bahan makanan yang kau suka Lis, aku akan mengajarimu memasak ” kata Sisil menggoda Lisa.

” Apa? aku belajar memasak? hmm.. oke, siapa takut ” tantang Lisa, beranjak menuju tempat buah-buahan.

” Kau tahu Sil? aku akan membuat es buah tersegar yang pernah ada ” kata Lisa mengambil buah melon, menciumnya.. berharap ada aroma manis disana.

” Iya Lis.. dan aku akan membuat balado telur, deal? ” jawab Sisil.

Lisa hanya mengangguk, kembali sibuk dengan buah pilihannya. Setelah selesai memilih buah, Lisa menhampiri Sisil yang sibuk memilih cabai.

” Sil.. ada bedanya ya cabai itu? ” tanya Lisa, pedas melihat Sisil sibuk memilih cabai.

Sisil tersenyum mendengar komentar Lisa.

” Sudah selesai Lis? ayo pulang ” ajak Sisil, melihat keranjang belanja Lisa.

” Sudah.. ayo “

Mereka beranjak meninggalkan supermarket yang mulai ramai pengunjung itu, antri di kasir. Setelah selesai membayar semua barang belanja, Sisil mengajak Lisa untuk mampir ke warung bakso langganan mereka.

” Lis, kamu mau pesan apa? ” tanya Sisil,

” Es jeruk Sil, aku haus ” jawab Lisa sambil memperhatikan suasana warung.

” Pak, bakso komplitnya 1, es jeruknya 2 ya pak, makasih ” pesan Sisil pada penjual bakso.

” Iya mba, tolong di tunggu sebentar ya? ” jawab si penjual, masih serius dengan masakannya.

Sisil menghampiri Lisa yang bermain sedotan.

” Sil.. kapan kau akan cerita?” tanya Lisa tak sabar, berharap Sisil cepat bercerita.

” Nanti di rumah Lis, sabar ya.. ” jawab Sisil.

Di dalam hati, Sisil masih ragu, haruskah dia membagi masalahnya dengan Lisa?

Pesanan Sisil sudah datang, dia cepat-cepat menghabiskan baksonya.

” Lis, ayo cepat pulang.. ” ajak Sisil, merasa risih dengan warung itu.

Lisa melihat perubahan sikap sahabatnya itu, di lihatnya sekeliling warung itu. Tidak ada yang aneh, pikir Lisa. Mungkin Sisil sakit perut.. Lisa mencoba mencari alasan. Tapi di seberang warung itu Lisa melihat sosok laik-laki yang terus memperhatikan Sisil. Lisa setengah berlari mengikuti Sisil ke mobil. Di dalam mobil Sisil terlihat pucat. Lisa memegang tangan Sisil, dingin.

” Sil, kamu baik-baik saja?” tanya Lisa khawatir.

” Tolong kamu yang menyetir Lis,” jawab Sisil gugup.

Lisa hanya mengangguk, mengambil alih kemudi. Lisa menginjak gas kuat-kuat, berharap cepat sampai rumah, dengan berbagai pertanyaan. Siapa laki-laki itu? kenapa memperhatikan Sisil? kenapa Sisil takut? Lisa hanya terdiam.