Bagian I Lisa tetap sibuk dengan rokoknya, meski hujan sudah reda. ” Jangan terlalu banyak menghisap rokok Lis, itu tidak baik ” sapa Sisil, menepuk bahu Lisa. Lisa hanya memandang Sisil dengan tatapan bosan. ” Dan jangan memandangku dengan tatapan seperti itu! ” lanjut Sisil. ” Lalu apa yang harus aku lakukan? menertawaimu? atau, ganti menasehatimu? maaf Sil, kau kenal aku, dan aku bukan orang yang seperti itu ” jawab Lisa datar. ” Lisa, tidak berarti karena masalah keluargamu, kau bebas seperti ini.. kau sahabatku, dan aku berhak untuk menasehatimu ” ujar Sisil seraya memeluk Lisa. Sudah lama orang tua Lisa sangat sibuk dengan pekerjaan mereka, sering bertengkar, bahkan Papa Lisa yang diketahui memiliki istri muda, hal itu lah yang menyebabkan orang tua Lisa memutuskan untuk berpisah. Kini Lisa tinggal dengan kakak laki-lakinya, Ricky. Lisa tertegun, memandang Sisil. ” Sil, aku lapar.. apakah kau akan membiarkanku kelaparan? ” tanya Lisa. ” Tentu saja tidak, keringkanlah bajumu.. aku akan membuatkanmu nasi goreng dang segelas susu hangat ” jawab Sisil sambil tertawa. Sisil hafal betul dengan masakan kesukaan Lisa, sudah hampir 18 tahun ini ,mereka bersahabat. Lisa menuju kamar Sisil, menggambil satu stel baju tidur yang memang Lisa tinggal, karena sering menginap di rumah Sisil. ” Lisa.. cepat keluar, nasinya sudah matang.. ” teriak Sisil dari dapur. Lisa berjalan cepat menuju dapur, tentu Lisa sangat lapar, dia juga tahu sahabatnya itu memang pandai memasak. ” Hmmm.. harum sekali masakanmu Sil, aku lapar.. ” ujar Lisa. ” Makanlah sampai kenyang Lis, setelah itu kau masih janji menceritakan masalahmu, ” jawab Sisil pengertian. ” Oke Sil.. janji, setelah makan, aku akan mengatakan semuanya, tapi.. temani aku makan “ Sisil mengiyakan permintaan Lisa, dia tahu Lisa sangat tidak suka makan sendiri. Lebih baik tidak makan daripada makan tanpa teman, kata Lisa. Sisil mengambil piring dan sendok, mengisinya dengan sedikit nasi goreng. Malam itu mereka menikmati makan bersama, yang mulai mereka lakukan sejak TK. Selesai makan, Lisa mengambil sebatang rokok. ” Lis, maafkan aku, kau tahu.. aku tidak suka dengan bau rokok ” cegah Sisil ketika Lisa menyulut korek api. ” Maaf Sil, seharusnya aku ingat.. ” Lisa mengurungkan niatnya untuk menghisap rokok di depan sahabatnya itu. ” Iya LIs, aku tahu.. istirahatlah, besok kau masih bisa menjelaskannya padaku ” Sisil memandang wajah Lisa yang sayu, berharap Lisa cepat istirahat. Dia tak ingin Lisa sakit karna kurang tidur. ” Baiklah Sil, kau yang memintaku.. ” jawab Lisa. Malam itu, Lisa dan Sisil tidur nyenyak.. tak ada satupun yang membuat mereka memaksakan diri untuk saling mengerti. Seakan hal itu sering terjadi.. dalam deras hujan, Lisa berlari.. terisak menuju rumah Sisil.
Sahabat Sejati




