Bagian III Lisa kembali duduk, menatap makanannya. ” Sil, cepat kemari.. ” ajak Lisa, berharap Sisil cepat kembali ke ruang makan dan menemaninya sarapan. ” Iya Lis.. ” teriak Sisil dari dapur, berlari kecil menuju ruang makan, tersenyum. ” Kau itu kenapa? makanlah, sedikit saja.. kau bisa sakit Sil, ” tanya Lisa khawatir. ” Aku tidak nafsu makan Lis, habiskan makananmu, aku ke kamar dulu ” jawab Sisil, beranjak pergi dari ruang makan. Lisa hanya terdiam, melihat tingkah sahabatnya itu. Baru kali ini Sisil membiarkan Lisa makan sendiri, bahkan meninggalkan Lisa. Lisa tahu ada sesuatu yang di sembunyikan sahabatnya itu, tapi apa? Lisa menghabiskan makanannya sambil berfikir kemungkinan apa yang bisa membuat Sissil sangat berubah hari ini. Di dapur, bibi terisak, dia tahu apa yang membuat Sisil berubah. Lebih dari tahu, bahkan bibi sendiri sangat mengerti, dia menyesal kenapa saat itu tidak menolong Sisil. ” Bi.. aku sudah selesai, tolong piringku di cuci ya bi, makasih ” ujar Lisa mengejutkan bibi. ” Ehh.. iya non, di taruh meja tidak apa-apa, nanti bibi bersihkan ” jawab bibi, berusaha menhapus air matanya. ” Loh.. bibi kenapa? kok nangis? ada masalah sama Sisil ya bi? ” tanya Lisa ingin tahu. ” Tidak non.. bibi baik, ini tadi bibi habis mengupas bawang ” kilah bibi. Lisa tahu bibi menyembunyikan sesuatu tentang Sisil. Lisa sangat kenal bibi, dia orang yang tidak pandai berbohong. ” Bi.. aku kan sahabat Sisil, kalau Sisil ada apa-apa, aku juga harus tahu, dia sudah cukup tahu aku, tapi kau belum.. ayolah bi, bantu aku, ya? ” rayu Lisa berharap bibi menceritakan apa yang terjadi dengan Sisil. Bibi bingung, apakah dia harus menceritakan semua pada Lisa, agar Lisa bisa membantu Sisil, atau tidak menceritakannya dan membuat dia diacuhkan Sisil. Bibi ingat saat Sisil masih bayi, bibi yang merawatnya seperti merawat anak sendiri. Bahkan bibi lebih sayang dengan Sisil daripada dengan anaknya sendiri. Tapi sejak kejadian itu, bibi merasa tidak berguna dimata Sisil, tidak bisa menolong Sisil saat itu. Bibi menangis mengingat semua kenangan bersama Sisil. ” Lis.. cepat mandi, setelah itu temani aku belanja makanan ” ujar Sisil mengejutkan. Bibi langsung menghapus air matanya dan kembali membersihkan piring. Lisa heran, kenapa Sisil bisa tiba-tiba muncul. ” Oke Sil, tunggu sebentar ” jawab Lisa, berlari menuju kamar Sisil.
Sahabat Sejati
“Sahabat Sejati”





bagus puuut , lanjutannya belom ada yaa ?
baguuus put , lanjutannya kapan ?
itu udah jadi dil :)